Rabu, 21 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
starplan.netstarplan.net
starplan.net - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Hindari Nama Toko di Berita Bisnis, Lakukan 4 Hal ...

Hindari Nama Toko di Berita Bisnis, Lakukan 4 Hal Ini Dulu

Pemilik usaha kecil sering bertanya apakah perlu masuk berita. Jawabannya: hati-hati, ada risiko yang jarang dibahas.

Hindari Nama Toko di Berita Bisnis, Lakukan 4 Hal Ini Dulu

Beberapa minggu lalu, seorang teman yang jualan kopi kekinian di pinggiran kota menelepon gue dengan nada panik. "Bro, ada wartawan mau wawancara soal usaha gue. Gue harus gimana?" Pertanyaan itu ternyata bukan cuma dia yang pernah alami. Hampir setiap pemilik usaha kecil yang mulai kelihatan di media sosial pasti suatu hari ketemu momen ini: ditawari liputan berita. Rasanya kayak mimpi jadi kenyataan. Tapi tunggu dulu.

Karena pertanyaan "apakah usaha kecil perlu masuk berita?" itu sering banget muncul di grup-grup UMKM, gue mau jawab dengan jujur. Jawabannya bukan sekadar "iya, biar viral" atau "enggak, ribet". Ada nuansa yang jarang dibahas, dan justru di situ letak jebakannya.

Kenapa Banyak Pemilik Usaha Kecil Gagal Manfaatkan Momen Liputan

Gue sudah lihat cukup banyak kasus. Ada yang usahanya naik drastis setelah masuk berita lokal, tapi ada juga yang malah kena masalah. Yang gagal biasanya bukan karena beritanya jelek, melainkan karena mereka nggak siap.

Bayangkan kamu tiba-tiba dihubungi jurnalis. Dia minta wawancara besok pagi. Kamu panik, lalu ngomong ngawur soal omzet, soal rencana ekspansi, soal persaingan dengan kompetitor. Besoknya berita terbit, dan kalimatmu dipotong sana-sini sampai maknanya berubah. Pelanggan jadi salah paham. Kompetitor jadi tahu strategimu. Selesai sudah.

Baca juga: Menhut Sebut Risiko Karhutla 2026 Lebih Besar, Pencegahan Harus Diperkuat

Ini yang paling sering ditanyakan pemilik usaha kecil: "Gimana caranya biar liputan berita bikin usaha saya naik, bukan malah bikin repot?" Nah, ada empat hal yang menurut gue wajib kamu lakukan dulu sebelum bilang "siap" ke wartawan.

1. Tanya dulu: ini berita jenis apa?

Jangan langsung iya-kan. Tanya balik ke jurnalisnya: ini untuk rubrik apa? Hard news, feature, atau konten promosi berbayar? Ketiganya beda total. Hard news biasanya kaku dan fokus fakta. Feature lebih bercerita, lebih panjang, dan biasanya lebih ramah buat usaha kecil. Kalau ternyata yang ditawarkan adalah advertorial berbayar, kamu berhak tahu harganya dan apa yang kamu dapat.

Gue pernah dengar cerita pemilik katering yang baru sadar setelah terbit kalau "wawancara" yang dia jalani ternyata paket advertorial berbayar yang ditagih belakangan. Nggak enak banget kan.

Jadi, sebelum apa pun, pastikan kamu paham transaksinya. Gratis atau berbayar? Kalau berbayar, berapa dan dapat apa?

2. Siapkan tiga poin pesan, jangan lebih

Ini yang sering dilupakan. Wartawan butuh kutipan yang jelas. Kalau kamu ngomong bertele-tele, yang dikutip justru bagian yang nggak kamu mau. Solusinya simpel: sebelum wawancara, tulis tiga poin yang ingin kamu sampaikan. Misalnya: (1) produkmu menyelesaikan masalah apa, (2) siapa pelanggan utamamu, (3) apa rencana jangka pendekmu.

Tiga poin itu cukup. Nggak usah lebih. Kalau kamu bawa sepuluh poin, yang masuk berita cuma satu atau dua, dan kamu bakal kecewa karena merasa "nggak adil". Padahal masalahnya ada di persiapanmu sendiri.

Risiko yang Jarang Dibahas soal Masuk Berita

Nah, ini bagian yang jarang banget dibahas di artikel lain. Masuk berita itu bukan cuma soal eksposur. Ada risiko yang perlu kamu antisipasi.

  • Data yang bocor. Jangan pernah sebut angka omzet detail, margin, atau nama supplier ke jurnalis. Cukup sebut rentang kasar kalau memang perlu. Kompetitor juga baca berita, lho.
  • Ekspektasi pelanggan naik. Setelah muncul di berita, pesanan bisa melonjak. Kalau kapasitas produksimu belum siap, kamu malah dapat komplain dan ulasan buruk. Ini nyata dan sering terjadi.
  • Komentar netizen. Berita online pasti ada kolom komentarnya. Nggak semua komentar ramah. Siapkan mental, dan jangan balas dengan emosi.
  • Kutipan yang dipelintir. Bukan karena jahat, tapi karena keterbatasan ruang. Kalimatmu dipotong, konteksnya hilang. Ini alasan kenapa poin pesan tadi penting banget.

Gue nggak mau nakut-nakutin. Tapi jujur, banyak pemilik usaha kecil yang euforia berlebihan saat pertama kali diliput, lalu kecewa berat karena hasilnya nggak sesuai bayangan. Lebih baik tahu risikonya dari awal.

Setelah Berita Terbit, Lakukan Ini

Oke, berita sudah tayang. Bagus. Sekarang jangan cuma diem dan berharap pesanan datang sendiri. Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan supaya liputan itu benar-benar berdampak.

Pertama, simpan link beritanya. Pasang di bio media sosial, di halaman "Tentang Kami" website, dan di materi promosi. Ini kredibilitas gratis yang sayang kalau dibuang. Kedua, screenshot kutipan yang bagus dan jadikan konten. Banyak orang lebih percaya kalimatmu yang dikutip media daripada caption promosi buatanmu sendiri.

Ketiga, dan ini yang paling penting: jaga kualitas. Lonjakan pelanggan setelah liputan itu ujian sesungguhnya. Kalau pelayananmu tetap bagus, mereka balik lagi. Kalau jelek, mereka datang sekali lalu hilang, dan kamu sudah membuang kesempatan emas.

Gue sendiri pernah bantu satu usaha kue rumahan yang diliput media lokal. Pesanan naik tiga kali lipat dalam seminggu. Tapi karena mereka belum siap nambah karyawan, dua minggu kemudian muncul komplain di mana-mana soal pengiriman telat. Pelajarannya mahal: liputan berita itu mempercepat segalanya, termasuk mempercepat kamu kelihatan belum siap.

Jadi, Harus Terima atau Tolak?

Menurut gue, terima. Tapi dengan syarat kamu sudah lakukan persiapan tadi: pahami jenis beritanya, siapkan tiga poin pesan, antisipasi risikonya, dan siapkan kapasitas setelahnya. Kalau salah satu belum siap, nggak ada salahnya minta waktu sehari-dua hari ke jurnalisnya. Wartawan biasanya masih bisa kasih kelonggaran, kok.

Yang jelas, jangan sampai momen liputan berubah jadi mimpi buruk cuma karena kamu terlalu excited dan lupa bersiap. Usaha kecil punya sumber daya terbatas, jadi setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan matang. Berita itu pedang bermata dua: bisa mengangkat usahamu, bisa juga memperlihatkan kelemahanmu ke publik luas.

Kalau kamu pernah diliput dan punya cerita seru (atau horor), gue penasaran dengar. Kadang pengalaman orang lain itu pelajaran paling murah yang bisa kita dapat.

Tags: berita bisnis usaha kecil media relations wawancara jurnalis reputasi usaha