Namun – Universitas Brawijaya (UB) resmi membuka program studi baru bernama Ketahanan yang langsung menarik perhatian publik. Pasalnya, mahasiswa angkatan perdana program ini tidak hanya berasal dari kalangan akademisi atau mahasiswa umum, melainkan juga terdiri dari personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), hingga anggota Badan Intelijen Negara (BIN).
Kehadiran prodi ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, terutama dalam memperkuat daya tahan bangsa di berbagai sektor, baik militer, sosial, politik, maupun ekonomi.
Menjawab Tantangan Era Geopolitik Global
Pembukaan Program Studi Ketahanan di UB bukan tanpa alasan. Dunia saat ini menghadapi dinamika geopolitik yang sangat cepat berubah. Konflik antarnegara, perang siber, ancaman terorisme, hingga krisis pangan dan energi menjadi tantangan serius bagi setiap negara, termasuk Indonesia.
Ketua Program Studi Ketahanan UB menegaskan, tujuan utama prodi ini adalah mencetak SDM strategis yang mampu memahami sekaligus merumuskan solusi terhadap ancaman-ancaman tersebut.
“Ketahanan bangsa bukan hanya soal militer, tetapi juga menyangkut ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan. Itulah mengapa program ini terbuka untuk berbagai kalangan,” jelasnya.
Mahasiswa dari Latar Belakang Strategis
Hal menarik dari angkatan pertama Prodi Ketahanan UB adalah keberagaman latar belakang mahasiswanya. Tidak hanya dari kalangan sipil, namun juga perwira TNI, anggota Polri, hingga personel BIN ikut serta dalam perkuliahan.
Keberadaan mereka diharapkan menjadi nilai tambah dalam proses belajar, karena pengalaman nyata di lapangan akan memperkaya diskusi akademis.
“Interaksi mahasiswa sipil dengan aparat negara akan melahirkan pemahaman komprehensif tentang isu-isu ketahanan. Ini menjadi ruang kolaborasi yang sangat penting,” ujar salah satu dosen pengampu.

Baca juga: Bupati Jeje Ikuti Arahan Dedi Mulyadi, Bandung Barat Hapus Tunggakan PBB Warga
Kurikulum Multidisipliner
Program studi ini dirancang dengan pendekatan multidisipliner. Mata kuliah yang ditawarkan mencakup berbagai bidang, mulai dari pertahanan dan keamanan, strategi geopolitik, ekonomi pertahanan, sosiologi ketahanan, manajemen bencana, hingga keamanan siber.
Selain itu, mahasiswa juga akan dibekali keterampilan analisis strategis, penelitian kebijakan publik, serta kemampuan mengelola isu-isu nasional yang kompleks.
“Dengan kurikulum seperti ini, lulusan Prodi Ketahanan UB diharapkan mampu menjadi pemikir, analis, maupun praktisi yang dapat berkontribusi langsung bagi negara,” tambah pihak fakultas.
Kolaborasi dengan Lembaga Negara
Untuk mendukung kualitas pembelajaran, UB menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga strategis, seperti Kementerian Pertahanan, TNI, Polri, BIN, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kolaborasi ini tidak hanya sebatas kuliah tamu, tetapi juga mencakup penelitian bersama, magang strategis, hingga simulasi penanganan krisis.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga langsung bersentuhan dengan realitas di lapangan,” ujar Rektor UB.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan hadirnya Prodi Ketahanan, UB berharap dapat memberi kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional, khususnya dalam memperkuat fondasi ketahanan bangsa.
Ke depan, prodi ini ditargetkan menjadi pusat studi ketahanan terkemuka di Indonesia, sekaligus melahirkan lulusan yang memiliki visi kebangsaan kuat, wawasan global, dan kemampuan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan strategis. Prodi Ketahanan UB hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut,” pungkas Rektor.
















